Jasa Konsultansi

Talent Management System In The Age Of AI

Para pemimpin bisnis harus menavigasi berbagai perubahan besar yang terjadi beberapa tahun terakhir: sulitnya menentukan dan mendapatkan talenta (talent) yang tepat di era kecerdasan buatan (AI), memilih strategi kerja remote dan hybrid, berubahnya preferensi karyawan karena perbedaan generasi, dan adopsi yang konstan dari peralatan atau sistem digital yang baru untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing bisnis.

Talent Management merupakan kunci keberhasilan setiap organisasi. Survey McKinsey 2018 menunjukkan, 99% responden menilai Talent Management System mereka efektif dan melaporkan kinerja perusahaan mereka mengalahkan perusahaan lainnya.

Berdasarkan riset dari Gallup, biaya rekrutmen talenta adalah 1,5 – 2,0 kali total gaji tahunan talenta tersebut. Di sisi lain, jika perusahaan memiliki 100 karyawan dengan rata-rata total gaji per tahun US$50.000, maka kerugian perusahaan akibat ke luarnya talenta bisa mencapai US$660.000 hingga $2,6 juta per tahun. Kedua fakta ini menunjukkan bahwa biaya rekrutmen talenta itu mahal, dan kerugian perusahaan yang ditimbulkan akibat mereka ke luar jauh lebih mahal lagi.

Talent Management adalah pendekatan strategis dan terstruktur untuk mendapatkan, mengembangkan, mengikat, dan mempertahankan karyawan-karyawan potensial untuk mewujudkan tujuan dan sasaran strategis organisasi. Talenta adalah orang yang memiliki potensi, kompetensi, dan kinerja tinggi dalam berbagai penugasan yang akan atau telah dilaluinya di dalam organisasi.

Langkah pertama dalam membangun Talent Management System (TMS) adalah memahami tujuan dan sasaran organisasi dalam jangka Panjang dan menerjemahkannya menjadi strategi talenta. Ketika tujuan dan sasaran strategis organisasi juga berkaitan dengan strategi digital, maka strategi talenta jelas akan terdampak. Lantas, seperti apa dampak utamanya? Digitalisasi proses bisnis berdampak kepada bagaimana organisasi menjalankan seluruh proses bisnis. Untuk mengoperasikan proses bisnis yang serba digital tersebut, dibutuhkan talenta yang mampu mengoperasikan dan memanfaatkannya dengan  baik. Hal itu bisa dipelajari melalui proses pengenalan, pembimbingan atau training.

Namun, dampak signifikan dari adopsi digital, berikut kecerdasan buatan (AI) dan big data analytic, terhadap manajemen talenta lebih kepada penentuan kriteria siapa yang menjadi talenta dalam organisasi masing-masing. Implikasinya kepada apa saja kompetensi unggul atau kekuatan (strength) yang harus dimiliki oleh seorang kandidat talenta untuk bisa disebut sebagai talenta. Kompetensi tersebut harus diuraikan ke dalam kamus kompetensi organisasi, terutama kompetensi teknis (hard competencies) dan kompetensi perilaku (soft competencies) sebelum ditetapkan menjadi standar kompetensi jabatan dari seorang talenta.

Dengan AI dan big data analytic sebagai kunci sukses dalam bekerja, dipastikan setiap kandidat talenta harus memiliki kompetensi teknis analisis data dan pembuatan keputusan berbasis data. Talenta semacam ini tidak bisa lagi hanya memiliki kompetensi berpikir analitis (analytical thinking) dan berpikir kritis (critical thinking), walaupun keduanya menjadi modal untuk menguasai big data analytic.

Dengan kriteria kompetensi ataupun kekuatan talenta yang lebih tepat di era AI, maka proses dan alat-alat bantu rekrutmen dan identifikasi kandidat talenta bisa dibuat lebih efektif. Termasuk proses pengembangan kompetensi, manajemen karir dan kinerja talenta ataupun manajemen talenta secara keseluruhan. Misalnya memanfaatkan training & development platform, performance management system, talent engagement tool, individual career management application, succession management system, dan sebagainya.

BAI memberikan jasa konsultansi dalam membangun dari awal kerangka strategis Talent Management System (TMS) organisasi maupun melakukan penyesuaian (fine tuning) TMS yang sudah ada agar lebih mampu menjawab tantangan perubahan di era AI. Mulai dari metode pencarian dan rekrutmen kandidat, pengembangan kompetensi dan karir, sistem manajemen kinerja dan remunerasi berbasis kinerja hingga manajemen keterikatan talenta (talent engagement). Termasuk di dalamnya menghitung kebutuhan talenta organisasi sesuai dengan rencana suksesi, Rencana Strategis, dan Rencana Jangka Panjang organisasi serta uji coba kamus kompetensi talenta melalui Assessment Center melibatkan beberapa asesor bersertifikat untuk validasi ketepatannya sebelum diterapkan secara penuh.